
Akhir tahun 2008, pasca hari raya Idul Adha, banyak sekali saudara di kampung ayah yang melaksanakan hajatan pernikahan, undangan sepertinya datang hampir tiap minggu. Karena kesibukan kerja di ahir tahun, kami tidak sempat pulang untuk menghadiri beberapa undangan.
Tapi di awal tahun 2009, ada sedikit waktu ayah untuk pulang kampung dan menghadiri pernikahan salah satu keponakannya, kebetulan keponakan yang menikah masih terbilang kerabat dekat.
Pesta di kampung tidak sama dengan pesta di kota yang serba praktis dan ekonomis. Di kampung pesta pernikahan dimulai sejak H-2. Kesibukan membuat rumah penyelenggara

pesta tak pernah sepi dari kaum kerabat, baik yang datang untuk memberikan selamat maupun untuk membantu hajatan, dan itu berlangsung sampai larut malam. Tak jarang pelaksana hajatan jatuh sakit kelelahan setelah ritual pesta usai dilaksanakan....
Kami tentu juga ikut merasakan lelah menghadiri hajatan yang begitu meriah, untunglah setelah usai, kami masih bisa menyempatkan diri mampir ke rumah uwak. Uwak memiliki kolam ikan yang sangat luas seperti danau dengan air yang sangat jernih. Di kola

m itu uwak memelihara banyak ikan, sehingga Nuh bisa memancing dengan riang. Sementara Sulthan memanfaatkan pinggiran kolam untuk berenang, tentu saja dengan gaya gedebak-gedebuk sehingga air kolam menjadi keruh.... tidak apa-apa karena setelah berenang, Sulthan bisa mandi di pancuran bambu yang airnya super jernih dan dingin! Brrrr.....