Rabu, 27 Agustus 2008

Nuh Mahardhika Matien Siam

Namaku Nuh Mahardhika Matien Siam, putra kedua keluarga Mahmud Siam. Sekarang aku berusia 8 tahun dan duduk di kelas 3 SD Negeri 87 Bengkulu. Dalam hidupku sekarang ini ada dua hal yang aku anggap sangat penting, yaitu Rizki sahabat karibku dan sepedaku. Yang lain rasanya boleh-boleh saja menghilang dari penglihatanku, tapi kalau sehari saja aku tak bertemu Rizki atau tak memegang sepedaku, rasanya hidupku menjadi aneh.....

Aku bertemu Rizki 3 tahun lalu, saat aku baru masuk TK. Waktu itu umurku baru 5 tahun, karena baru pindah dari Medan maka aku merasa sangat asing dengan lingkunganku. Aku mudah panik dan cemas bila kehilangan orang-orang yang kukenal. Karenanya, ketika aku masuk TK, maka aku tidak mengizinkan mamahku pergi dari kelasku sampai bel pulang berbunyi.


Aku tahu, mamah sangat sedih melihatku selalu takut. Dia berusaha membesarkan hatiku dengan selalu mengulang-ngulang kalimat bahwa aku adalah anak lelaki yang harus berani menghadapi hidup. Aku tahu itu mah, tapi waktu itu aku memang tak bisa mengatasi rasa takutku. Karena terlalu sibuk dengan fikiranku, bahkan sampai hampir seminggu di TK aku belum punya teman. Aku tidak tahu anak mana yang bisa kupercaya untuk menjadi temanku.

Pada hari ke tujuh, saat upacara bendera aku tiba-tiba melihat seorang anak berambut panjang, wajahnya lembut seperti perempuan tapi dia memakai celana, bukan rok!
Aku benar-benar takjub, ketika kuamati ternyata dia seorang anak laki-laki. Anak laki-laki berambut panjang? Tiba-tiba saja aku geli, mulanya aku cuma tersenyum, tapi lama-lama aku tak bisa menahan tawaku, apa yang akan ayah bilang bila dia melihat anak itu? Kata ayah, seorang anak laki-laki harus berambut pendek, bahkan gundul kalau tidak mau dibilang kayak perempuan. Tapi sekarang aku melihat seorang anak lelaki berambut panjang....hahaha


Mamah terkejut mendengar aku tertawa. Tapi setelah aku ceritakan dengan berbisik-bisik, akhirnya dia pun tertawa. Orang-orang melihat kami dengan heran, tapi aku dan mamahku tetap saja tertawa karena merasa lucu. Belakangan aku berkenalan dengan anak tersebut, namanya Rizki. Rizki sangat pendiam, walaupun dia tidak penakut, namun ternyata dia juga belum punya teman. Akhirnya kami berteman, Rizki sangat baik dan setia, bila ada temanku yang nakal, maka dia akan membelaku. Akhirnya akupun bersikap sama selalu membelanya. Hingga kini aku dan Rizki bersahabat karib.


Sekarang Rizki tidak lagi berambut panjang, tetapi tetap saja rambutnya lebih panjang dari rambutku yang selalu dipangkas setiap bulan. Pernah sih aku memanjangkan rambut dan meminta dipangkas seperti gaya Rizki, tapi akhirnya aku merasa aneh melihat wajahku sendiri sampai akhirnya aku balik ke tukang pangkas untuk dicukur gundul kembali....... Aku tetap merasa nyaman dengan rambut plontos seperti ayah. Mungkin sudah ciri khas keluarga, tidak bisa dirubah. Yang penting hingga kini aku tetap bersahabat dengan Rizki.....

Jumat, 01 Agustus 2008

Namaku SULTHAN....


Namaku Sulthan, lengkapnya Sulthan Sulaiman Azizi Siam. Aku bungsu dari 3 bersaudara, ayahku Mahmud Siam dan Mamahku Tina Herlina. Aku lahir di Bengkulu bertepatan dengan hari ulang tahun ayahku ke-35, jadi aku berulang tahun bareng sama ayah tanggal 5 Agustus empat tahun yang lalu.


Kata mamah aku cerewet, semua hal ditanya dengan detil. Kadang, mamah sampai bosan dan bingung mencari jawabannya. Habis bagiku, semua hal yang aku temui sangat menarik, aku selalu ingin tahu.
Kalau aku bertanya kenapa aku tidak boleh pergi sekolah, mamah bilang karena aku masih kecil. Lho, kan mamah pernah bilang kalau aku sudah bisa naik sepeda, sudah bisa ke warung Uni sendirian, tidak lari-lari dan kalau disuruh beli telur, telurnya ngga ada yang pecah, itu berarti aku sudah besar. Kok sekarang mamah bilang aku masih kecil, padahal kan aku sudah sering disuruh beli telur sama mamah walau kadang masih juga ada yang pecah....

Kata ayuk juga begitu, aku boleh sekolah di sekolah yang ada ayunannya kalau aku tidak nakal. Aku kan tidak nakal Yu..... Aku sudah bisa mandi sendiri, giginya digosok, kakinya yang kotor disabuni terus pakai handuk sampai kering, terus pakai baju yang sudah disediakan ayuk. Aku juga sudah bisa makan sendirian (walaupun ayuk suka ngomel karena makannya lama),sudah bisa pasang kaset cd sendiri, walaupun kalo ngomong aku masih cedal........ kata mamah tidak apa-apa cedal, orang yang ngomongnya cedal biasanya pintar, bener ngga sih?

Tapi kata ayah, dia bangga sama aku. Soalnya aku pemberani, aku tidak pernah takut! Kalau pergi ke pasar sama mamah pasti aku berani keliling pasar sendirian, tapi mamah suka marah, katanya : 'pegang tangan mamah, ngga boleh lepas, nanti adek hilang' Kok hilang sih mah, adek kan cuman pengen lihat ikan yang masih hidup, atau kaki kambing yang digantung terbalik itu, nanti adek cari mamah deh, pasti ketemu!

Aku suka berantem lho sama ayah, aku tidak takut. Kalau aku kalah dan ayah mengejekku, aku bilang sama ayah : “ nanti kalau adek sebesar ayah, adek tinju ayah, pasti ayah nangis, kapok kan?” Biasanya ayah nangis ketakutan, jadi aku repot membujuknya, susahnya ayah tidak suka permen, jadi kalo aku bujuk mau kasih permen dia tidak mau, dia terus nangis sampai mamah datang, ketahuan deh aku ngancam ayah. Kata mamah jangan suka nakal sama ayah, kasian ayah, dia kan sudah tidak punya mamah...... Yah mamah, masak dia bela ayah sih, ayah kan sudah besar!